12 Kata Tak Terjemahkan yang Akan Mengubah Cara Pandangmu terhadap Dunia

OpenL Team 6/2/2026
12 Kata Tak Terjemahkan yang Akan Mengubah Cara Pandangmu terhadap Dunia

TABLE OF CONTENTS

Beberapa perasaan begitu spesifik sehingga bahasa Inggris tidak pernah repot-repot memberi nama untuknya. Namun bahasa lain melakukannya — dan setiap kata ini adalah jendela untuk melihat bagaimana budaya yang berbeda memandang dunia.


Emosi yang Tak Punya Nama dalam Bahasa Inggris

Beberapa pengalaman emosional bersifat universal. Yang membedakan adalah apakah suatu budaya menganggapnya cukup penting untuk dirangkum dalam satu kata.

Saudade (Portugis, diucapkan sow-dahd)

Bayangkan kamu meninggalkan rumah sepuluh tahun lalu. Kamu telah membangun kehidupan baru, teman baru, rutinitas baru. Namun terkadang, di sore Minggu yang tenang, ada gelombang perasaan yang datang — bukan sekadar sedih, bukan sekadar nostalgia, tapi kesadaran yang dalam dan menyakitkan akan seseorang atau sesuatu yang selamanya telah tiada.

Itulah saudade.

Budaya Portugis telah mengangkat emosi ini menjadi sebuah seni. Ini adalah tema utama dalam musik fado, di mana para penyanyi menuangkan perasaan ini ke dalam lirik tentang pelaut yang hilang, kekasih yang telah pergi, dan tanah air yang tak terjangkau. Penulis Portugis abad ke-17, Manuel de Melo, menggambarkannya sebagai “kenikmatan yang menyakitkan, penyakit yang dinikmati.”

Bahasa Inggris membutuhkan satu paragraf penuh untuk menggambarkan apa yang bisa dirangkum bahasa Portugis dalam tujuh huruf.

Gigil (Tagalog)

Kamu melihat bayi dengan pipi tembam. Atau anak kucing berbulu lebat dengan kaki yang terlalu besar. Ada sesuatu yang muncul dari dalam — dorongan kuat untuk mengepalkan tangan, mengatupkan gigi, dan memeluk erat.

Orang Filipina punya nama untuk ini: gigil (diucapkan ghee-gill).

Ini adalah perasaan aneh dan paradoks yang muncul karena sesuatu yang terlalu lucu — begitu kuat hingga terasa hampir fisik. Berbeda dengan saudade yang sudah ada dalam bahasa Portugis selama berabad-abad, gigil baru masuk ke Oxford English Dictionary pada Maret 2025, bersama sepuluh kata Filipina lain seperti kababayan dan lumpia.

Editor eksekutif OED, Danica Salazar, menjelaskan logikanya: ketika penutur dwibahasa cukup sering meminjam sebuah kata untuk mengisi “kekosongan leksikal” dalam bahasa Inggris, kata itu layak masuk kamus. Gigil mengisi kekosongan yang bahkan tidak disadari oleh penutur bahasa Inggris.

Ya’aburnee (Arab)

“Semoga kamu yang menguburku.”

Itu adalah terjemahan harfiah dari frasa Arab ya’aburnee (يقبرني). Kedengarannya suram — sampai kamu memahami perasaan di baliknya.

Ini adalah pernyataan cinta yang begitu mendalam sehingga kamu berharap meninggal sebelum orang tersebut, karena kamu tidak sanggup membayangkan hidup tanpanya. Seorang orang tua mungkin mengucapkannya kepada anaknya. Seorang kekasih mungkin membisikkan kepada pasangannya.

Dalam bahasa Inggris ada ungkapan “I would die for you,” namun itu tentang pengorbanan. Ya’aburnee adalah tentang sesuatu yang lebih tenang: pengakuan sederhana dan menakutkan bahwa ketidakhadiran seseorang akan membuat hidupmu sendiri terasa tak tertahankan.

Wanita duduk sendirian di pantai saat matahari terbenam, suasana kontemplatif


Dunia di sekitar kita

Beberapa bahasa memberikan perhatian luar biasa pada dunia fisik — menamai fenomena yang dialami oleh penutur bahasa Inggris, namun tidak pernah terpikir untuk diberi label.

Komorebi (Jepang)

Masuklah ke hutan di siang yang cerah. Lihat ke atas. Cahaya tidak hanya menembus kanopi — ia menari. Ia membentuk pola yang berubah-ubah, berkelap-kelip di antara ranting, melukis tanah dengan bayangan yang bergerak mengikuti setiap hembusan angin.

Bahasa Jepang menangkap ini dalam satu kata: komorebi (木漏れ日).

Tiga karakter tersebut secara harfiah berarti pohon (木) + bocor/menyusup (漏れ) + sinar matahari (日). Namun maknanya lebih besar dari sekadar gabungan kata-kata itu. Komorebi bukan hanya cahaya itu sendiri — melainkan kesadaran akan ketidakabadiannya, pengakuan diam-diam bahwa pola yang kamu lihat saat ini tidak akan pernah muncul persis sama lagi.

Ini sangat terkait dengan konsep Jepang mono no aware — penghargaan manis-pahit terhadap keindahan yang sementara. Budaya yang menamai cara cahaya jatuh menembus dedaunan adalah budaya yang melatih diri untuk memperhatikan momen-momen kecil dan singkat yang sering dilewati begitu saja oleh kebanyakan orang setiap hari.

Cahaya matahari menembus dedaunan hijau di hutan

Hygge (Denmark)

Denmark secara konsisten menempati peringkat sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Jika Anda bertanya kepada orang Denmark alasannya, mereka kemungkinan besar akan menyebut hygge (diucapkan hoo-gah).

Hygge adalah seni menciptakan kehangatan, kenyamanan, dan keintiman — lilin yang berkedip di malam musim dingin yang gelap, kaus kaki tebal dan minuman hangat, teman dekat yang tertawa bersama di sekitar meja tanpa agenda dan tanpa ponsel. Ini bukan tentang gestur besar atau suasana mewah. Justru sebaliknya: hygge adalah tentang menemukan kepuasan mendalam dalam hal-hal sederhana, bersahaja, dan momen saat ini.

Kata ini begitu berpengaruh sehingga baik Oxford Dictionary maupun Collins Dictionary menobatkannya sebagai kata tahun ini pada 2016. Hygge memicu gelombang buku, artikel gaya hidup, bahkan tren desain interior. Namun pada intinya, hygge bukanlah sesuatu yang bisa dibeli — ini adalah sesuatu yang harus dipupuk.

Fakta bahwa bahasa Denmark membutuhkan kata benda khusus untuk ini menunjukkan sesuatu tentang nilai-nilai budaya mereka.

Fernweh (Jerman)

Semua orang tahu wanderlust — keinginan untuk bepergian. Namun bahasa Jerman memiliki kata yang lebih tajam dan mendesak: fernweh (fern = jauh, weh = sakit atau nyeri).

Secara harfiah berarti “sakit karena jarak,” kebalikan dari homesickness. Jika wanderlust adalah lamunan menyenangkan tentang petualangan di masa depan, fernweh adalah rasa sakit yang nyata — kesadaran menyakitkan bahwa ada tempat di dunia yang belum Anda lihat, dan waktu terus berjalan.

Jika Anda pernah melihat foto lanskap yang jauh dan merasakan tarikan fisik di dada, Anda telah merasakan fernweh. Bahasa Inggris meminjam wanderlust tetapi tidak pernah meminjam fernweh. Mungkin karena lebih menyakitkan untuk mengakui.


Seni kebersamaan

Koneksi sosial terlihat berbeda di setiap budaya. Kata-kata ini mengungkap bagaimana masyarakat menyediakan ruang untuk kebersamaan — dan nuansa spesifik dari koneksi yang paling mereka hargai.

Sobremesa (Spanyol)

Di Spanyol, sebuah santapan tidak berakhir ketika piring-piring sudah dibersihkan. Santapan berlanjut ke sobremesa — waktu santai yang dihabiskan dengan tetap duduk di meja, berbincang, tertawa, dan mencerna bersama.

Sobremesa tidak punya agenda. Tidak ada yang melihat jam. Percakapan mengalir dari politik ke gosip keluarga, ke filsafat, lalu kembali lagi. Cangkir kopi kosong dan terisi ulang. Dalam pandangan orang Spanyol, ini bukanlah “membuang waktu” — inilah inti dari berbagi makanan bersama.

Kata ini secara harfiah berarti “di atas meja” (sobre = di atas, mesa = meja), dan mencerminkan prioritas budaya yang langsung terasa bagi banyak pengunjung Spanyol: hubungan lebih penting daripada jadwal. Bahasa Inggris tidak memiliki kata untuk ini karena aktivitasnya sendiri telah tergeser oleh makan yang lebih cepat dan kalender yang lebih padat.

Cafuné (Portugis Brasil, diucapkan kah-foo-neh)

Beberapa gestur manusia yang paling intim tidak memiliki nama dalam bahasa Inggris. Cafuné adalah salah satunya: tindakan dengan lembut menjalankan jari-jari di rambut seseorang.

Ini bukan romantis dalam arti dramatis. Cafuné lebih tenang dari itu — sentuhan yang biasa terjadi antara orang tua dan anak, atau antara pasangan di pagi Minggu yang malas. Cafuné menyampaikan Aku di sini, kamu aman, kamu dicintai tanpa sepatah kata pun.

Kata ini kemungkinan berasal dari bahasa Kimbundu di Angola, yang dibawa ke Brasil melalui diaspora transatlantik. Cafuné mengingatkan kita bahwa beberapa hal terpenting yang kita lakukan untuk satu sama lain tidak memiliki label dalam bahasa Inggris — bukan karena hal itu tidak terjadi, tetapi karena tidak ada yang terpikir untuk menamainya.

Hiraeth (Bahasa Welsh, diucapkan hee-ryeth)

Hiraeth sering diterjemahkan sebagai “rindu kampung halaman,” tetapi itu hanya menyentuh permukaan saja.

Ini adalah kerinduan yang dalam dan manis pahit terhadap sebuah rumah yang mungkin sudah tidak ada lagi — atau mungkin tidak pernah ada sama sekali. Ia membawa rasa duka dan kehilangan, sebuah penyesalan atas sesuatu yang tak bisa kembali. Kamu bisa merasakan hiraeth untuk rumah masa kecil yang telah dihancurkan puluhan tahun lalu, untuk sebuah lanskap yang hanya kamu kenal lewat cerita nenekmu, untuk versi negaramu yang telah terhapus oleh waktu.

Orang Wales sangat menjaga kata ini, dan memang ada alasannya. Bahasa Welsh sendiri hampir lenyap akibat tekanan berabad-abad dari Inggris, dan kebangkitannya adalah salah satu kisah kebangkitan bahasa paling luar biasa di Eropa. Hiraeth menangkap perasaan kehilangan itu dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh kata dalam bahasa Inggris manapun.

Untuk kata-kata lain yang juga menangkap emosi budaya yang sangat spesifik, lihat daftar lengkap 50 kata yang tak bisa diterjemahkan dari lebih dari 25 bahasa.

Teman-teman berkumpul di dapur yang hangat, tertawa dan menikmati kebersamaan


Semangat dan kreativitas

Tiga kata terakhir ini tentang bagaimana kita mencurahkan diri dalam apa yang kita lakukan — mencipta dengan jiwa, memecahkan masalah dengan kecerdikan, dan menemukan alasan untuk terus melangkah.

Meraki (Yunani, diucapkan meh-rah-kee)

Sebagian orang bekerja lalu pulang. Yang lain meninggalkan sebagian dari dirinya dalam setiap karya yang mereka buat.

Bahasa Yunani punya kata untuk pendekatan kedua ini: meraki (μεράκι). Artinya melakukan sesuatu dengan jiwa, kreativitas, dan cinta — menaruh sebagian dari dirimu ke dalam pekerjaanmu. Seorang koki yang mencicipi setiap hidangan sebelum keluar dari dapur. Tukang kayu yang menghaluskan bagian bawah meja yang tak akan pernah terlihat. Penulis yang mengulang satu kalimat sepuluh kali karena masih “belum terasa pas.”

Meraki berasal dari bahasa Turki merak, yang berarti “rasa ingin tahu” atau “gairah,” namun penutur Yunani mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ini bukan tentang perfeksionisme atau pamer. Ini tentang kebanggaan yang tenang karena tahu kamu telah memberikan seluruh dirimu.

Di dunia yang serba otomatis, penuh jalan pintas, dan draf buatan AI, meraki adalah sesuatu yang tak bisa dipalsukan oleh mesin.

Jugaad (Hindi)

Mobilmu mogok di jalan pedesaan. Tak ada alat, tak ada montir di sekitar. Tapi kamu melihat seutas kawat, sedikit lakban di laci dashboard, dan sendok yang bengkok. Dua puluh menit kemudian, kamu sudah kembali melaju di jalan.

Itulah jugaad — seni memecahkan masalah secara kreatif dan fleksibel dengan apa pun yang tersedia.

Jugaad adalah pola pikir sekaligus praktik. Dalam bahasa Hindi, istilah ini menggambarkan baik solusi dadakan itu sendiri maupun sikap di baliknya: pantang menyerah hanya karena keterbatasan sumber daya. Bukan soal mengambil jalan pintas yang berbahaya, melainkan menemukan cara ketika cara “resmi” tidak tersedia.

Para ahli manajemen bahkan telah mengangkatnya menjadi konsep bisnis — “jugaad innovation” — untuk menggambarkan bagaimana para wirausahawan di pasar berkembang menciptakan produk dengan sumber daya minimal. Namun bagi penutur Hindi sehari-hari, jugaad adalah cara hidup. Kamu beradaptasi, berimprovisasi, dan selalu menemukan jalan keluar.

Ikigai (Jepang, diucapkan ee-kee-guy)

Pulau Okinawa di Jepang memiliki salah satu konsentrasi penduduk berusia seratus tahun terbanyak di dunia. Para peneliti yang mempelajari umur panjang mereka terus mendengar satu kata: ikigai (生き甲斐).

Artinya “alasan untuk hidup” — sesuatu yang membuatmu bangun pagi. Namun ikigai bukan soal misi hidup yang besar, melainkan hal-hal kecil sehari-hari yang membuat hidup terasa layak dijalani. Menikmati kopi pagi bersama orang tercinta. Merawat kebun. Mengajarkan keterampilan pada generasi muda. Kata ini menggabungkan iki (hidup) dan gai (nilai, makna), dan akarnya berasal dari periode Heian (794–1185), saat kerang dianggap benda berharga — jadi ikigai secara harfiah berarti “nilai dari hidup.”

Psikiater Jepang, Mieko Kamiya, yang mempopulerkan istilah ini dalam bukunya tahun 1966 On the Meaning of Life, membuat sebuah pembedaan penting: ikigai berkaitan dengan seikatsu (kehidupan sehari-hari), bukan jinsei (seluruh hidup seseorang). Ikigai bukan tentang menemukan satu tujuan besar. Ini tentang mengumpulkan cukup banyak alasan kecil untuk terus melangkah.

Berbagai studi telah mengaitkan memiliki ikigai dengan risiko kematian yang lebih rendah, tingkat penyakit jantung dan demensia yang lebih sedikit, serta harapan hidup yang bisa bertambah hingga tujuh tahun. Tidak buruk untuk sebuah kata yang belum pernah diciptakan dalam bahasa Inggris.

Dua tangan penuh cat warna-warni — kreativitas dan gairah dalam berkarya


Apa yang bisa kita pelajari dari kata-kata ini

Masing-masing dari dua belas kata ini adalah sebuah bentuk perhatian budaya. Sebuah masyarakat memperhatikan sesuatu — sebuah perasaan, pola cahaya, ritual sosial, dorongan kreatif — dan memutuskan bahwa hal itu layak untuk diberi nama.

Itulah yang membuat kata-kata ini sangat berharga. Ketika kamu mempelajari kata seperti komorebi atau sobremesa, kamu tidak hanya memperluas kosakata. Kamu sedang meminjam cara pandang budaya lain — dan dengan melakukannya, kamu mulai memperhatikan hal-hal dalam hidupmu sendiri yang sebelumnya mungkin kamu lewati begitu saja.

Bahasa juga bisa kehilangan kata — dan ketika sebuah bahasa punah, pengamatan unik tentang makna menjadi manusia yang dimilikinya juga ikut hilang.

Alat seperti OpenL Translate bisa menerjemahkan kata-kata ke lebih dari 100 bahasa secara instan — namun beberapa konsep tetap sulit diterjemahkan bahkan oleh AI terbaik sekalipun. Itu bukan keterbatasan teknologi. Itu adalah pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat transfer informasi. Bahasa adalah catatan tentang apa yang dianggap penting oleh sebuah budaya.


Sumber