Mengapa Beberapa Bahasa Tidak Memiliki Kata untuk 'Tolong'

OpenL Team 4/17/2026

TABLE OF CONTENTS

“Please” adalah salah satu kata pertama yang dipelajari anak-anak penutur bahasa Inggris — namun dalam banyak bahasa di dunia, tidak ada padanan langsung untuk kata ini. Apakah itu berarti bahasa-bahasa tersebut tidak sopan? Tentu saja tidak. Itu berarti cara berbahasa sopan bekerja dengan cara yang berbeda.

Jika kamu pernah mendengar bahwa penutur bahasa Rusia terdengar lugas, atau orang Finlandia cenderung melewatkan basa-basi, atau bahwa kesopanan dalam bahasa Jepang “tertanam dalam bahasanya,” kamu sedang bersentuhan dengan salah satu gagasan paling menarik dalam ilmu bahasa: kesopanan bukanlah sekadar kata — melainkan sebuah sistem.

Pertanyaan tentang mengapa beberapa bahasa tidak memiliki kata untuk “please” sebenarnya bukan soal kesopanan — melainkan soal di mana sebuah bahasa memilih untuk menempatkan tanda hormat. Dan jawabannya jauh lebih beragam dari yang banyak orang kira.

Bahasa-Bahasa yang Tidak Memiliki Kata “Please” — atau Menggunakannya dengan Cara yang Sama Sekali Berbeda

Mari mulai dengan bahasa-bahasa yang paling sering disebut dalam pembahasan ini.

Bahasa Finlandia

Bahasa Finlandia mungkin adalah contoh yang paling terkenal. Di dalam percakapan sehari-hari, tidak ada kata tunggal yang berarti “please”.

Sebagai gantinya, orang Finlandia menggunakan dua strategi. Pertama, mereka menambahkan “kiitos” (terima kasih) pada permintaan — jadi “A coffee, please” menjadi “Kahvi, kiitos” (“Kopi, terima kasih”). Kedua, dan lebih halus, mereka menggunakan modus kondisional. Alih-alih berkata “Berikan itu padaku,” orang Finlandia akan berkata “Saisinko…?” — secara harfiah berarti “Bolehkah saya mungkin mendapatkan…?” — di mana bentuk gramatikalnya sendiri sudah membuat permintaan terdengar lebih sopan. Bahasa Finlandia juga memiliki akhiran kata kerja kecil yang disebut klitik (seperti -pa/-pä) yang mengubah perintah tegas menjadi ajakan yang lebih ramah.

Budaya Finlandia sangat menghargai keterusterangan dan ketulusan. Terlalu sering menggunakan ungkapan sopan justru bisa terasa mencurigakan — seolah-olah kamu sedang bersikap sopan secara berlebihan, bukan benar-benar berkomunikasi dengan tulus.

Bahasa Swedia dan Denmark

Seperti halnya bahasa Finlandia, bahasa Swedia tidak memiliki satu kata pun yang berfungsi seperti “please” dalam bahasa Inggris untuk semua situasi.

Bahasa Swedia memang memiliki kata “snälla” (secara harfiah berarti “dengan baik hati”), namun kata ini terutama digunakan untuk memohon atau meminta dengan sangat — bayangkan seorang anak menarik lengan baju orang tuanya. Jika orang dewasa mengatakan “Snälla, ge mig kaffe” (“Tolong, berikan saya kopi”), itu terdengar putus asa, bukan sopan. Sebagai gantinya, orang Swedia lebih mengandalkan “tack” (terima kasih), ungkapan seperti “Är du snäll och…?” (“Maukah kamu dengan baik hati…?”), atau cukup dengan nada suara. Bahasa Denmark juga bekerja dengan cara yang serupa.

Budaya sosial egaliter di Skandinavia turut berperan di sini. Terlalu banyak ungkapan hormat secara verbal mengisyaratkan adanya hierarki sosial yang justru dihindari oleh banyak orang Swedia dan Denmark.

Bahasa Polandia

Bahasa Polandia adalah kasus tengah yang menarik. Bahasa ini memiliki kata “proszę” (PRO-sheh) — namun kata tersebut adalah pisau Swiss Army dalam linguistik yang berarti hampir segalanya kecuali apa yang diharapkan penutur bahasa Inggris dari kata “please”.

Proszę secara harfiah adalah bentuk present orang pertama dari prosić (“meminta”), jadi artinya “Saya meminta” atau “Saya sedang meminta.” Namun dalam praktiknya, kata ini juga digunakan untuk: “sama-sama,” “silakan” (saat menyerahkan sesuatu), “masuk” (menjawab ketukan pintu), dan “maaf?” (dengan nada naik). Dalam permintaan sehari-hari, orang Polandia sering kali tidak menggunakannya sama sekali dan lebih mengandalkan pelunakan gramatikal — “Poproszę kawę” (“Saya ingin kopi”) sudah cukup tanpa terdengar menuntut. Logikanya sama seperti dalam bahasa Rusia: kata tersebut memang ada, tetapi tidak berfungsi sebagai partikel kesopanan serba guna seperti “please” dalam bahasa Inggris.

Bahasa Rusia

Bahasa Rusia memiliki kata yang diterjemahkan sebagai “please” — пожалуйста (pozhaluysta) — namun penggunaannya sangat berbeda dengan padanan dalam bahasa Inggris.

Dalam bahasa Rusia, pozhaluysta juga digunakan untuk berarti “sama-sama” dan “silakan.” Di antara teman atau dalam transaksi sehari-hari, kata ini sering diabaikan sama sekali — bukan karena orang Rusia tidak sopan, tetapi karena intonasi yang membawa makna. Permintaan seperti “Дайте соль” (“Berikan garam”) bisa terdengar sangat sopan dengan melodi naik-turun yang tepat. Tanpa nada itu, terdengar seperti perintah; dengan nada tersebut, menjadi permintaan hangat. Penanda kesopanan terpenting dalam bahasa Rusia sebenarnya adalah pronomina formal “Вы” — penggunaannya menandakan rasa hormat tanpa perlu mengucapkan “tolong” sama sekali.

Jepang

Bahasa Jepang memiliki frasa yang diterjemahkan sebagai “tolong” — kudasai (tolong berikan), onegaishimasu (saya memohon dengan hormat) — tetapi tidak ada partikel “tolong” universal yang bisa ditempelkan ke kalimat apa pun.

Sebaliknya, kesopanan dalam bahasa Jepang tertanam dalam sistem kata kerja itu sendiri. Bentuk -masu pada kata kerja menandakan bahasa yang sopan. Seluruh register kalimat berubah tergantung pada hubungan Anda dengan pendengar. Meminta sesuatu kepada rekan kerja dalam keigo (bahasa kehormatan) secara otomatis lebih sopan daripada bentuk kasual — tanpa perlu kata “tolong.”

Jadi, Bagaimana Bahasa-Bahasa Ini Menyampaikan Kesopanan?

Ketika suatu bahasa tidak memiliki kata “tolong” khusus, beban kesopanan berpindah ke aspek lain. Di berbagai bahasa, ada tiga mekanisme utama yang memikul tugas ini:

1. Tata bahasa dan bentuk kata kerja. Mood kondisional dan subjunktif (“Bisakah Anda…?”, “Maukah Anda…?”) menciptakan kesopanan melalui struktur tata bahasa, bukan kosakata. Bahasa Finlandia, Rusia, Prancis, dan Jerman sangat mengandalkan cara ini. Bahasa Jepang dan Korea menanamkan kesopanan dalam akhiran kata kerja.

2. Nada dan partikel. Beberapa bahasa menggunakan partikel di akhir kalimat untuk memperhalus ucapan. Bahasa Thai memiliki “khrap” (laki-laki) dan “kha” (perempuan) — suara pendek yang ditambahkan ke hampir setiap kalimat dalam konteks sopan. Bahasa Mandarin menggunakan “吧” (ba) untuk mengubah imperatif menjadi saran yang lembut. Bunyi-bunyi kecil ini melakukan pekerjaan sosial yang sangat besar.

3. Pergeseran Pronomina dan Cara Menyapa. Banyak bahasa — seperti Prancis (tu vs. vous), Jerman (du vs. Sie), Rusia (ты vs. вы), Vietnam, dan Thailand — menggunakan kata yang berbeda untuk “kamu” tergantung pada hubungan sosialnya. Memilih pronomina formal itu sendiri sudah merupakan tindakan kesopanan yang mendalam sehingga membuat kata “tolong” berdiri sendiri menjadi tidak diperlukan.

Linguistik di Baliknya — Teori Face

Untuk memahami mengapa kesopanan dalam berbagai bahasa bisa sangat berbeda, para ahli bahasa mengacu pada Teori Kesopanan Brown dan Levinson (1987), salah satu kerangka kerja paling berpengaruh dalam sosiolinguistik.

Teori ini berpusat pada konsep “face” — citra diri seseorang di hadapan publik — yang dibagi menjadi dua kebutuhan:

  • Positive face: keinginan untuk disukai, diterima, dan disetujui
  • Negative face: keinginan untuk memiliki otonomi dan bebas dari paksaan

Contoh sederhana: jika Anda meminta rekan kerja untuk lembur, Anda mengancam negative face mereka — kebebasan mereka untuk pulang kapan saja. Penutur bahasa Inggris secara naluriah akan melunakkan permintaan ini dengan ungkapan seperti “I was wondering if you might possibly be able to…” lalu menambahkan “please” di akhir. Memang banyak basa-basi, tapi tujuannya adalah untuk memberi sinyal: Saya tahu saya sedang merepotkan, dan saya memberi Anda ruang untuk menolak.

Setiap permintaan adalah tindakan yang mengancam face seperti ini. Setiap bahasa punya cara berbeda untuk meredakannya.

Bahasa Inggris sangat mengandalkan strategi kesopanan negatif — berbicara tidak langsung, menggunakan kata pengaman, dan kata “please” — yang semuanya mengakui adanya beban dan memberi orang lain kesempatan simbolis untuk menolak.

Bahasa Slavia dan Nordik sering cenderung pada kesopanan positif — keterusterangan, kehangatan, dan ketulusan. Dalam budaya Rusia atau Finlandia, rangkaian basa-basi verbal yang terlalu rumit justru bisa terasa dingin atau transaksional, seolah-olah Anda sedang mengikuti naskah daripada berbicara dari manusia ke manusia. Permintaan langsung yang disampaikan dengan kehangatan menandakan kepercayaan. Meminta teman dekat Anda “Tolong ambilkan garam” tanpa banyak basa-basi bukanlah hal yang kasar — itu berarti Anda cukup percaya pada mereka sehingga tidak perlu ritual.

Inilah sebabnya kalimat yang sama bisa terasa “kasar” dalam satu konteks budaya dan “jujur menyegarkan” dalam konteks lain — bukan karena satu bahasa lebih sopan, tetapi karena mereka mengekspresikan kesopanan melalui saluran yang berbeda.

Apa Artinya untuk Terjemahan dan Lokalisasi

Ini bukan sekadar fakta linguistik yang menarik — ada konsekuensi nyata bagi siapa pun yang menerjemahkan atau melokalkan konten lintas bahasa.

Pertimbangkan “Please click here” — kalimat yang muncul di hampir setiap konten digital berbahasa Inggris. Jika Anda menerjemahkannya secara kata per kata ke dalam bahasa Finlandia, hasilnya bisa terdengar kaku, terlalu formal, atau bahkan aneh bagi penutur asli. Solusinya bukan mencari padanan “please” dalam bahasa Finlandia — melainkan menyusun ulang kalimat dengan strategi kesopanan alami dari bahasa target.

Inilah yang dimaksud oleh penerjemah profesional ketika mereka membicarakan lokalisasi yang terdengar alami versus “translationese.” Seperti yang telah kita bahas dalam mengapa terjemahan Anda terdengar aneh dan cara memperbaikinya, tanda bahaya terbesar dalam konten terjemahan bukanlah kata yang salah — melainkan kata yang benar tetapi digunakan dalam pola yang tidak alami.

Tantangan yang sama juga berlaku untuk antarmuka pengguna, skrip layanan pelanggan, dan salinan pemasaran. Notifikasi produk yang sopan dalam bahasa Inggris bisa terdengar singkat dalam bahasa Jepang jika bentuk kata kerjanya tidak disesuaikan. Email yang hangat dalam bahasa Rusia bisa terasa kaku jika pozhaluysta dimasukkan di setiap kalimat hanya karena versi aslinya dalam bahasa Inggris menggunakan kata “please”.

Memahami sistem pengkodean budaya seperti ini juga menjadi alasan mengapa lokalisasi lebih dari sekadar terjemahan. Angka, tanggal, bahkan tanda baca membawa makna sosial — seperti yang kami bahas dalam mengapa tanggal dan angka perlu dilokalkan. Naluri yang sama untuk kefasihan budaya juga berlaku pada penanda kesopanan.

Bagi tim yang menerjemahkan konten dalam skala besar — dokumentasi produk, pusat bantuan, string UI, kampanye pemasaran — hal ini sangat penting. OpenL menangani terjemahan dalam lebih dari 100 bahasa dengan memperhatikan nuansa pragmatis seperti ini, bukan sekadar padanan kosakata.

Kesopanan Itu Universal — Cara Penyampaiannya Berbeda

Setiap bahasa dan budaya memiliki cara untuk menunjukkan rasa hormat, memperhalus permintaan, dan mengakui otonomi orang lain. Tidak ada bahasa yang lebih kasar dari yang lain — mereka hanya menemukan alat tata bahasa dan budaya yang berbeda untuk melakukan hal yang sama.

Ketika orang Finlandia memesan kopi dan berkata “Kahvi, kiitos” — “Kopi, terima kasih” — mereka bukan sedang bersikap singkat; kiitos sudah berfungsi seperti “please”. Ketika orang Rusia berkata “Дайте соль” dengan nada hangat, mereka bukan sedang menuntut. Ketika rekan kerja Jepang menggunakan bentuk -masu, kesopanan sudah melekat di dalamnya.

Lain kali Anda berinteraksi lintas bahasa dan sesuatu terasa terlalu lugas atau terlalu formal, ada baiknya bertanya: Apakah orang ini benar-benar kasar, atau saya hanya belum melihat di mana letak kesopanan dalam bahasa mereka?

Hampir selalu, jawabannya yang kedua.

Coba OpenL Translate

Menerjemahkan konten lintas budaya bukan sekadar mengganti kata—ini berarti memahami bagaimana kesopanan, nada, dan konteks budaya membentuk cara kerja bahasa. OpenL mendukung terjemahan berkualitas profesional dalam lebih dari 100 bahasa, dirancang untuk menghasilkan keluaran yang alami dan sesuai konteks, bukan sekadar penggantian kata demi kata secara mekanis. Coba gratis dan rasakan sendiri perbedaannya.


Sumber: